HUT YKI Ke-33
Bertemu Dan Berbagi Pengalaman Dengan Para Ostomate
Rabu, 31 Maret 2010

Pembedahan ini dilakukan bila seseorang menderita keganasan pada laring sehingga laring harus diangkat, yang berarti juga pengangkatan pita suara. Hal ini menyebabkan ketidak mampuan bicara. Untuk itu perlu dibuat lubang (stoma) untuk membantu pernafasan dan kemampuan bicara. Pada penderita ini harus dilakukan tindakan rehabilisasi berupa pelatihan bicara dengan menggunakan saluran pencernaan, yang disebut Bicara Esofagus.
Juga dikatakan Ostomate, bila seseorang menderita keganasan pada saluran cerna (usus besar) atau saluran kemih sehingga kehilangan kemampuan untuk buang air besar atau buang air kecil secara normal. Hal ini penderita harus menggunakan suatu alat buatan melalui stomanya untuk mengumpulkan hasil pembuangan tubuh.
Jenis operasi ostomy antara lain : laryngectomy (lubang pada laring), ileostomy (lubang pada usus kecil), colostomy (lubang pada usus besar) dan urostomy (lubang pada saluaran kemih). Oleh karena itu banyak faktor yang sangat membebani para Ostomate, baik beban fisik yang biasanya selalu harus memakai kantong didaerah perutnya maupun beban psikis yang biasanya merasa cacat, takut orang sekitar merasa ada bau tak sedap dari dia, merasa sudah tidak dapat melaksanakan tugas-tugasnya lagi dan sebagainya.
Saat ini masih kurang perhatian terhadap para Ostomate. Pada hal, makin terasa adanya peningkatan kasus yang menggunakan stoma dan penyebab tersering adalah karena keganasan. Karena hal tersebut, maka dibentuklah Indonesian Ostomy Association (INOA). INOA diperlukan bagi Ostomate agar mendapatkan informasi tentang perawatan stoma, memperoleh kemudahan mendapatkan kantong stoma terutama bagi Ostomate kurang mampu serta mendapatkan pengalaman dan ilmu pengetahuan dari sesama Ostomate dan perawat stoma.
Pada akhir Maret 2010, para Ostomate di DI Yogyakarta mendapatkan kesempatan bertemu dengan sesama Ostomate yang difasilitasi oleh Yayasan Kanker Indonesia cabang DI Yogyakarta (YKI DIY) melalui pengurus Indonesian Ostomy Association DIY (InOA DIY). Hadir pada kesempatan tersebut ketua InOA Pusat yalah ibu Kemala Yasin, yang juga sebagai salah satu pasien dengan stoma. Ibu Kemala sudah 20 tahun memakai kantong. Pernyataan yang blak-blakan menyelaskan bahwa Ostomate harus iklas, jangan takut, ini merupakan anugerah malah bangga bahwa ostomate kuat menghadapi kenyataan. Gaya hidupnya berubah, menjurus lebih beriman serta lebih cepat nyumbang ke mesjid, katanya bergurau. Hal tersebut ditimpali pula oleh ibu Marina yang sudah 3 tahun sebagai Ostomate, bahwa Ostomate masih diberi kesempatan masih berkarya, masih dapat meningkatkan amalan, hidup lebih baik. Kesempatan tersebut untuk dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya jangan hanya merenungi nasib. Dokter Hendro Wartatmo, spesialis bedah digestif, salah seorang anggota professional Board InOA DIY, menyatakan bahwa di Yogyakarta, kanker usus besar cukup banyak angka kejadiannya, sampai 5-6 pasien per bulan. Tetapi pasien Yogya yang mau dibuat stoma masih sedikit. Hal tersebut mungkin kaitan dengan masalah psikis, rasa malu, merasa dikucilkan dan sebagainya. Memang beban psikis dan fisik sangat berat diderita oleh para Ostomate. Oleh karena itu diperlukan pendampingan oleh relawan agar penderita bersedia dibuatkan stoma yang diperlukan, diberikan pendampingan psikis dan sosialnya serta agar bersedia hidup seperti biasanya. Tidak perlu dikhawatirkan, karena lubang / stoma serta kantong penampung tinja / urin dapat disembunyikan tanpa diketahui oleh orang lain, dan masih dapat tampil cantik apabila bekerja, jagong / arisan. Sehingga Ostomate tidak hanya memerlukan ketrampilan merawat stoma dan trampil mengganti kantongnya, namun harus siap menjadi manusia seperti yang lain.
Hadir pada kesempatan tersebut mas Andre dari Surabaya, sebagai produsen kantong stoma, yang memperlihatkan suatu kreasi dari bahan bathok kelapa. Banyak pasien yang tidak tahan atau alergi dengan kantong dari plastik, karena harus berhubungan langsung dan dilem dengan kulit perut. Bathok ini sebagai tempat melekatnya kantong tetapi tidak membuat alergi ke kulit perut pasien. Hal tersebut karena kantong tidak langsung menempel di kulit, tetapi dilekatkan di bathok, dan bathok tersebut yang menempel di kulit dengan dibantu dengan sabuk tanpa memakai lem yang harus melekat di kulit. Bundaran bathok tersebut dikencangkan mengelilingi stomanya dengan dibantu oleh sabuk dari elastik atau kain blaco apabila kulit tidak tahan elastik. Upaya cerdas tersebut sangat membantu para Ostomate. Para Ostomate yang memerlukan informasi dapat ke YKI DIY maupun ke RS Sardjito. Pasien yang kurang mampu, mendapatkan keringanan harga ataupun dibebaskan dari biaya.
Upaya sosialisasi dilakukan oleh INOA DIY secara rutin setiap 3 bulan sekali, dengan bertemu untuk saling memberikan pengalaman, dapat melakukan konsultasi dengan perawat stoma ataupun dokter ahlinya serta bertemu dengan ahli psikologi. Semoga yang dilakukan oleh Yayasan Kanker Indonesia dapat bermanfaat bagi Ostomate serta bagi masyarakat yang bersedia berpartisipasi sebagai pendamping, dapat menghubungi YKI DIY.